Masalah terbesar yang saat ini sedang dihadapi bumi adalah terjadinya pemansan global (global warming) yang salah satunya disebabkan oleh efek gas rumah kaca, dan Indonesia termasuk salah satu negara yang paling berkontribusi atas terjadinya hal tersebut.
Untuk menjawab permasalahan di atas, sebuah inovasi dan solusi cerdas adalah jawaban yang tepat yang bisa dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Sebuah bangsa yang dianggap maju adalah bangsa yang mempunyai masyarakat dengan kemampuan intelektualitas tinggi. Universitas adalah ujung tombak bagi negara maju dalam menghasilkan pemikiran atau teknologi baru untuk menjawab permasalahan lingkungan yang terjadi pada saat ini.
Indonesia mempunyai perguruan tinggi (universitas) baik negeri ataupun swasta dengan jumlah sebanyak 3.151. Jumlah mahasiswa di Indonesia pada tahun 2014 berjumlah sebanyak 3,2 juta (Metrotv.news). Maka dari itu, Indonesia mempunyai aset besar dalam menyiapkan generasi selanjutnya yang mempunyai wawasan baru untuk memperbaiki permasalahan lingkungan yang akan terus dikaji dalam beberapa tahun ke depan.
Sebuah perguruan tinggi (universitas) mempunyai sejumlah mahasiswa ‘hebat’ yang akan berperan dalam memperbaiki kerusakan lingkungan yang terjadi pada saat ini. Seorang pemimpin yang baik yaitu memiliki sudut pandang baru dalam memperhatikan kondisi lingkungan dan mempunyai inovasi dan solusi untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan yang akan mengancam kehidupan manusia di permukaan bumi.
Salah satu aktivitas rutin yang dilakukan oleh sebuah perguruan tinggi (universitas) yaitu penerimaan mahasiswa baru dan adanya pengenalan (orientasi) tentang fasilitas, sistem pembelajaran dan aktivitas ekstrakulikuler. Kegiatan tersebut dibantu oleh mahasiswa senior yang sudah tergabung dalam beberapa organisasi yang akan mengenalkan semua hal tentang aktivitas di kampus.
Namun apakah pengenalan (orientasi) yang dilakukan selama ini sudah memberikan manfaat lebih kepada mahasiswa baru? Apalagi kegiatan yang diikuti mahasiswa baru sebagian besar membuat suasana menjadi lebih ‘membosankan’.
Untuk mewujudkan kampus yang berwawasan lingkungan (Eco-Campus), maka mahasiswa baru harus dikenalkan dengan Green Attitude atau Green Lifestyle. Pengenalan (orientasi) bukan menjadi ajang senioritas atau mengenalkan fasilitas kampus, sistem pembelajaran dan aktivitas ekstrakulikuler saja. Akan tetapi, pengenalan (orientasi) dapat memberikan wawasan baru kepada mahasiswa baru untuk bersikap ramah lingkungan di lingkungan kampus dan dapat menyalakan inisiatif baru untuk menemukan solusi cerdas dalam mengatasi permasalahan lingkungan yang terjadi pada saat ini.
Green Orientation yaitu pengenalan (orientasi) yang mengenalkan tentang wawasan ramah lingkungan atau sikap peduli terhadap permasalahan lingkungan yang terjadi pada saat ini. Green Orientation menjadi langkah pertama untuk merealisasikan kurikulum ramah lingkungan dimana mahasiswa akan melakukan diskusi rutin mengenai isu-isu pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Hasil yang akan dicapai dari kurikulum ramah lingkungan yaitu terciptanya penelitian dan kegiatan pengabdian masyarakat yang berkaitan dengan Earth Skill Education, Conservation, Green Energy, dan Recycling.
Green Orientation dapat diwujudkan dengan menerapkan 3 hal yaitu Green Knowledge, Green Habit, dan Green Innovation. Tiga hal ini dapat digabungkan dalam satu kegiatan atau yang terjadwal secara urut. Tiga hal ini dikenalkan kepada mahasiswa baru untuk dapat dilakukan seterusnya di lingkungan kampus (berkelanjutan).
- Green Knowledge yaitu memberikan pengetahuan atau wawasan tentang kegiatan ramah lingkungan. Mahasiswa baru dapat dikenalkan tentang isu kerusakan lingkungan, seperti pencemaran udara dari kendaraan bermotor dan kegiatan industri; pencemaran tanah dan air yang disebabkan oleh limbah industri dan berbagai aktivitas manusia (salah satunya yaitu permasalahan sampah). Kemudian mahasiswa baru dapat dikenalkan dengan Green Living in Campus (bisa berupa diskusi panel atau talkshow). Untuk membangkitkan semangat mahasiswa baru untuk menciptakan pemikiran atau teknologi baru yaitu dengan menjelaskan isu terbaru tentang Environmental Science di dunia, seperti isu air, community, energy, forest, waste, dan wildlife.
- Green Habit yaitu mengenalkan kepada mahasiswa untuk melakukan aktivitas rutin sehari-hari (kebiasaan) yang ramah terhadap lingkungan. Untuk menciptakan budaya car free day di lingkungan kampus, maka mahasiswa baru tidak diperbolehkan membawa kendaraan selama orientasi (pengenalan) berlangsung. Mahasiswa baru diberikan tugas untuk membawa ‘aksesoris’ pengenalan (orientasi) dengan bahan dasar dari daur ulang sampah. Panitia kegiatan pengenalan (orientasi) harus menerapkan konsep paper less, yaitu tidak menghasilkan kertas dengan jumlah yang banyak.
Untuk mewujudkan kegiatan pengenalan (orientasi) menjadi Zero Waste Event, maka mahasiswa baru diwajibkan untuk membawa tumblr atau gelas dari rumah atau kostnya.
Kemudian panitia menyediakan galon beserta alat pompa di setiap kegiatan yang akan dilakukan. Panitia menyediakan makanan yang tidak menghasilkan sampah, kemasan makanan dari bahan alami. Seperti daun pisang, atau paling tidak kemasan kertas. Sehingga bisa dikompos di lingkungan kampus. Kemudian mahasiswa baru diajarkan untuk membuat kompos atau membuat biopori dari sampah organik yang dihasilkan selama kegiatan pengenalan (orientasi).
Selain membuat kompos, mahasiswa baru juga diajarkan untuk menanam pohon di beberapa wilayah kampus.
Lalu kegiatan pengenalan (orientasi) juga akan mengajarkan kepada mahasiswa baru untuk melakukan penghematan energi dengan menggunakan energi listrik seperlunya, jika energi listrik tersebut tidak digunakan maka kita wajib melepaskan energi listrik tersebut. Panitia juga dapat memberikan permainan ramah lingkungan (Eco-Games) yang diberikan pada saat ice breaking. Permainan ini dapat digunakan sebagai sarana edukasi informal yang dikenalkan secara langsung kepada mahasiswa baru.
- Green Innovation yaitu memberikan rangsangan ‘baru’ kepada mahasiswa baru untuk menciptakan inovasi yang dapat menghasilkan sebuah solusi nyata dalam memperbaiki kondisi lingkungan yang semakin tercemar dengan aktivitas manusia. Rangsangan ‘baru’ ini akan mengarahkan mahasiswa baru untuk berfikir tentang Green Technology Campus (GTC), yaitu sebuah konsep yang diangkat sebagai bentuk penerapan Green Concept di dalam proses pendidikan. Suatu saat nanti mahasiswa baru akan menghasilkan ide ‘luar biasa’ untuk memperbaiki kondisi lingkungan kampus dan lingkungan sekitarnya.
Kegiatan yang dapat dilakukan yaitu panitia memberikan tugas kepada mahasiswa baru untuk membuat paper atau makalah tentang Eco-Campus atau Eco-Technology. Selain itu, mahasiswa baru diwajibkan untuk membuat kerajinan daur ulang sampah dan membuat Green Campaign dari produk daur ulang sampah yang sudah dibuat. Inovasi yang lain juga bisa dilakukan dengan mengambil isu lingkungan terbaru, seperti : diet kantong plastik; menggunakan transportasi ramah lingkungan (bersepeda); dan memanfaatkan ruang terbuka hijau (hutan atau taman kota).
Orientasi ramah lingkungan (Green Orientation) dapat dilakukan dengan dukungan dari berbagai pihak, bukan hanya panitia penyelenggara, melainkan pemegang birokrasi di sebuah perguruan tinggi (universitas) yang berperan dalam memberikan dukungan berupa materi tentang wawasan peduli lingkungan dan fasilitas kampus yang mempunyai orientasi dalam pengembangan Eco-Campus. Jadi, orientasi ramah lingkungan (Green Orientation) dapat berjalan baik jika didukung dengan kerjasamaa kooperatif dan partisipasi aktif antar civitas akademika di sebuah universitas.
Pada saat ini dunia membutuhkan solusi nyata untuk mengurangi dampak pemanasan global yang terus berkembang. Kegiatan nyata yang bisa dilakukan oleh mahasiswa yaitu memberikan karya dan pengabdian dirinya kepada kampus dan lingkungan sekitar.
©[Repost Doc Forum Hijau Kampus Indonesia(FHKI) untuk FHI] dengan penyesuaian data.
©[Repost Doc Forum Hijau Kampus Indonesia(FHKI) untuk FHI] dengan penyesuaian data.

Komentar
Posting Komentar